Hukum Khutbah Jum’at

Jumhur ulama berpendapat bahwa khutbah shalat jum’at itu hukumnya wajib. Pendapat mengenai wajibnya shalat jum’at ini mereka sandarkan kepada hadits-hadits yang menyebutkan bahwa Nabi Saw. Selalu berkhutbah setiap mengerjakan shalat jum’at.

Di samping itu, mereka juga menyandarkan pendapat mereka dengan dalil-dalil berikut:

  1. Rasulullah Saw bersabda:

صلوا كما رأيتموني أصلي

“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat (tata cara) shalatku”

  1. Firman Allah Swt:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَوٰةِ مِن يَوۡمِ ٱلۡجُمُعَةِ فَٱسۡعَوۡاْ إِلَىٰ ذِكۡرِ ٱللَّهِ وَذَرُواْ ٱلۡبَيۡعَۚ ذَٰلِكُمۡ خَيۡرٞ لَّكُمۡ إِن كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ ٩

Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum´at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui

Dalam ayat ini ada perintah untuk segera berzikir (mengingat Allah) sehingga hokum zikir menjadi wajib sebab adanya perintah untuk segera berzikir (mengingat Allah) menunjukkan (perintah) wajib. Zikir – dalam ayat ini – mereka tafsirkan dengan khutbah karena di dalamnya mengandung (bacaan-bacaan zikir) kepada Allah.

Alas an yang dikemukakan oleh jumhur itu disanggah oleh Syaukani.

  1. Alasan pertama (perintah untuk segera berzikir menunjukkan bahwa zikir itu wajib) dijawab bahwa semata-mata mengerjakannya saja, belum tentu menunjukkan (perintah) wajib.
  2. Alasan kedua bahwa Nabi Saw menyuruh umat beliau supaya melaksanakan shalat sebagaimana yang dilakukan beliau, maka yang diperintahkan untuk dicontoh hanyalah shalat beliau, bukan khutbah beliau sebab khutbah tidak termasuk shalat.
  3. Alas an ketiga dijawab bahwa zikir yang diperintahkan Allah adalah shalat atau masih diragukan di antara shalat dan khutbah, padahal shalat telah disepakati hukumnya wajib, sedangkan berkhutbah masih diperselisihkan sehingga ayat tersebut tidak mungkin menjadi dalil atas wajibnya khutbah.

Selanjutnya, Syaukani menegaskan bahwa pendapat yang benar adalah pendapat yang dikemukakan oleh Hasan Bashri, Daud Zhairi dan Juwaini[1] bahwa khutbah shalat jum’at hanya sunnah.[2]

[1] Begitu juga dengan Abdul Malik bin Habib dan Ibnu al-Majisyun dari golongan Malikiyah.

[2] Sayyid Sabiq, Terjemah Fikih Sunnah Jilid 2, ditahqiq oleh ahli waris Syayyid Sabiq, Darul Fath, h. 1-2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *